Maulid Nabi Muhammad SAW

MESKI jarak waktu yang tidak kurang dari 15 abad menjadi pemisah antara kehidupan kita saat ini dengan kehidupan di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, namun beliau tidak menutup pintu dan kesempatan bagi siapa saja untuk bisa memperoleh kedudukan yang dekat dengan beliau pada hari kiamat..

Doa untuk mendapatkan jodoh yang terbaik

Dewasa ini menikah telah menjadi persoalan yang sangat pelik dan besar bagi banyak pihak. Persoalan yang mengganjal kemudahan dan kelancaran pernikahan tidak sebatas factor biaya pernikahan yang besar saja.

Syarat Seorang Anak Wajib Menafkahi Orang Tuanya

Birrul walidain dan berbuat baik ke kedua orang tua adalah amal kebaikan yang sangat mulia di dalam Islam. Kedudukannya disandingkan dengan perintah tauhid.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Sunday, April 14, 2013

Syarat Seorang Anak Wajib Menafkahi Orang Tuanya

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, kita senantiasa memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Shalawat dan salam teruntuk hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Birrul walidain dan berbuat baik ke kedua orang tua adalah amal kebaikan yang sangat mulia di dalam Islam. Kedudukannya disandingkan dengan perintah tauhid (ibadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun juga) dalam beberapa ayat Al-Qur'an. Ini menjadi bukti kuat keagungan amal ini. Ditambah keterangan, bahwa bakti ini sebagai bentuk syukur atas jasa-jasa keduanya sejak dikandungan, bayi sehingga menjadi besar dan dewasa.
Allah Ta'ala berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman: 14)
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya." (QS. Al-Isra': 23)
Dan di antara bentuk ihsan kepada keduanya adalah dengan memberikan nafkah atau menanggung nafkah keduanya saat mereka sangat-sagat membutuhkan orang yang menafkahi mereka. Khususnya, anak-anak mereka yang mampu dan berkelapangan. Sebabnya, anak adalah orang yang paling dekat kepada orang tuanya. Jika seorang anak yang berkecukupan menanggung nafkah kedua orang tuanya yang miskin, maka itu merupakan kewajiban yang sangat penting dan memiliki pahala yang besar.
Para ulama juga telah bersepakat akan kewajiban ini. Ibnul Mundzir berkata: "Para ulama sepakat, menafkahi kedua orang tua yang miskin yang tidak punya pekerjaan dan tidak punya harta merupakan kewajiban yang ada dalam harta anak, baik kedua orang tua itu muslim atau kafir, baik anak itu laki-laki atau perempuan."
Beliau mendasarkannya kepada firman Allah Ta'ala,
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
"Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (QS. Luqman: 15) di antaranya melalui nafkah dan pemberian yang membuat mereka senang.
. . . di antara bentuk ihsan kepada keduanya adalah dengan memberikan nafkah atau menanggung nafkah keduanya saat mereka sangat-sagat membutuhkan orang yang menafkahi mereka . . .
Dan disyaratkan kewajiban menafkahi ini adalah kelapangan rizki si munfik (anak) dan kesulitan yang dialami orang tua dan butuhnya ia kepada nafkah tersebut. (Lihat: Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah: 39/22)
Jika kondisi anak miskin maka ia tidak berkewajiban memberikan nafkah kepada orang tuanya atau orang terdekatnya.
Ibnu Qudamah di dalam Al-Mughni (9/258) menjelaskan tentang adanya tiga syarat dalam kewajiban nafkah ini: Pertama, orang yang dinafkahi (orang tua) adalah orang miskin yang tidak memiliki harta dan pekerjaan yang mencukupkannya dari mengharapkan nafkah orang lain. Sebaliknya, jika orang tua punya banyak harta atau pekerjaan yang mencukupinya maka ia tidak wajib diberi nafkah. Karena nafkah ini sebagai bentuk bantuan, sedangkan orang yang banyak harta tidak butuh kepada bantuan.
Kedua, orang yang wajib menafkahi telah berkecukupan untuk menafkahi dirinya sendiri; baik dari hartanya atau pekerjaannya. Sedangkan orang yang tidak memiliki harta yang lebih maka ia tak berkewajiban sama sekali. Hal ini berdasarkan hadits shahih riwayat Jabir, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فَقِيرًا فَلْيَبْدَأْ بِنَفْسِهِ فَإِنْ كَانَ فِيهَا فَضْلٌ فَعَلَى عِيَالِهِ فَإِنْ كَانَ فِيهَا فَضْلٌ فَعَلَى ذِى قَرَابَتِهِ
"Apabila salah seorang kalian miskin maka hendaklah ia mulai dari disrinya sendiri. Jika telah lebih maka atas keluarganya. Jika masih ada lebihnya maka kepada kerabat dekatnya." (HR. Abu Dawud)
Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu meriwayatkan, ada seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata: Ya Rasulullah, aku punya beberapa dinar. Beliau bersabda: sedekahkanlah untuk dirimu. Ia berkata lagi; aku masih punya lagi. Beliau bersabda;  sedekahkanlah untuk anakmu. Ia berkata: aku masih punya lagi. Beliau bersabda: sedekahkanlah untuk istrimu. Ia berkata: aku masih punya lagi. Beliau bersabda: sedekahkanlah untuk pembantumu. Ia berkata: aku masih punya lagi. beliau bersabda: engkau lebih tau itu." (HR. Abu Dawud dan dihassankan oleh Al-Albani) sesungguhnya memberi nafkah ini adalah muwasah maka tidak wajib atas orang yang membutuhkan (miskin) sebagaimana zakat.
Ketiga, orang yang menafkahi adalah warisnya. Karena antara yang diwarisi dan mewarisi ada hubungan kekerabatan maka keberadaan waris lebih berhak terhadap harta orang yang diwarisi dari sekalian manusia maka selayaknya ia berkekhususan untuk menafkahinya daripada selainnya. Hal ini didasarkan kepada firman Allah Ta'ala,
وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ
"Dan waris pun berkewajiban demikian." (QS. Al-Baqarah: 233)
Di sini perlu dicatat, bahwa jika misalnya orang tua mampu sehingga ia tidak diwajibkannya memberi nafkah untuk orang tua yang berkecukupan bukan berarti si anak tidak dianjurkan untuk memberikan sesuatu dari hartanya kepada orang tuanya. Ia tetap dianjurkan untuk memberi hadiah, oleh-oleh, atau jatah bulanan sebagai kesempurnaan ihsan (berbuat baik) kepada keduanya walau kedua tidak betul-betul membutuhkannya. Kecuali orang tuanya yang menolak karena kasihan kepada anaknya atau supaya disalurkan kepada yang lebih membutuhkan. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Meneladani 4 Perempuan Dambaan Surga

Di era serba instan ini, banyak godaan materi yang senantiasa dihadapi oleh kaum perempuan. Namun, untuk menghindari godaan-godaan tersebut kita selalu diingatkan oleh Allah untuk memulai sesuatu hal dengan bersyukur. Bersyukur dengan apa yang dalam diri, khususnya bersyukur terhadap segala hal yang tidak tampak, seperti ketaatan, kesehatan diri, ketenangan yang ada di dalam hati, serta lingkungan yang baik. Itulah nikmat syukur yang harus kita dahulukan, sebelum mensyukuri hal lain.
Terkait dengan qalbu, kita juga harus melakukan permohonan maaf dan memaafkan. Tak sedikit keadaan yang membuat kita jengkel atau sedih, dimana di luar kendali kita. Oleh karena itu, setiap hari diusahakan kita berintrospeksi diri dengan meminta maaf dan memaafkan. Jangan sampai, ketika kita berbuat amalan, masih ada satu ganjalan dalam hati yang kita rasakan, yaitu mendendam.
Saudaraku, ketika kita ditanya: “Bagaimana menjadi perempuan dambaan syurga?“, kita tidak perlu mencari buku atau broswing internet, karena Allah telah memberikan pedoman lengkapnya, yaitu melakukan perbuatan dan ibadah yang didambakan oleh syurga, sesuai al-Qur’an dan As-Sunah.
Saat ini perempuan identik dengan kecantikan lahiriah, sampai-sampai banyak produk kecantikan yang memberikan iming-iming kulit putih dalam waktu satu minggu. Sayangnya tidak jarang para perempuan tidak melihat berapa harga yang ditawarkan. Asal bisa putih dan cantik, mereka berharap bisa membayar berapa pun. Padahal, ada kecantikan yang tak akan pernah pudar yaitu yang ada dalam qalbu. Kecantikan itu berupa ketaatan kepada Allah, kesederhanaan, kelembutan dan pengorbanan.
Dalam Surat An-Nahl (16) : 97 berbunyi : “ Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa telah mereka kerjakan”.
Dalam surat tersebut kita mengerti, bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal kebajikan harus disertai iman. Ketika iman sudah bersemayam dalam qalbu, dan ketika melakukan kebaikan maka Allah akan membalasnya dengan balasan yang baik pula.
Melalui media elektronik kita bisa melihat, perempuan yang mempunyai paras cantik dan kepintaran, dipuja-puja di ajang Miss Universe. Tak dapat dipungkiri, jika beberapa remaja mengidolakan mereka. Melihat fenomena tersebut, para ibu harus menanamkan pada anak-anak mereka sejak dini, bahwa perempuan yang didamba syurga bukan mereka yang bergelar Miss Universe atau Putri Indonesia, tetapi seperti yang ada dalam sebuah hadist berikut ini:
Wanita paling utama di surga adalah Khadijah binti Kuwalid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imrah dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.” (HR. Ahmad dan Thabrani)
Perempuan dambaan al-Qur’an adalah sebagaimana Khadijah, Fatimah, Maryam, maupun Asiyah. Kita sebagai perempuan harus meneladani sifat-sifat mereka, bukan meniru sifat-sifat Miss Universe, Putri Indonesia, atau perempuan-perempuan yang masih jauh dari syariat Islam atau masih melanggar perintah Allah.
Berbicara tentang Khadijah binti Khuwalid , ada ucapan Rasulullah untuk Ummul Mukminin Khadijah kita yaitu “Allah SWT tidak akan memberikan wanita pengganti untukku yang lebih baik darinya. Ia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar kepadaku. Ia mempercayaiku ketika orang – orang mendustakanku, ia menghiburku dengan hartanya ketika orang-orang menghalangiku. Ia memberiku anak keturunan ketika istri-istriku yang lain tidak bisa memberinya untukku.
Kisah tersebut menjelaskan, bahwa saat Rasulullah mendapatkan wahyu di Gua Hira, maka Khadijahlah adalah wanita pertama yang menenangkan, sekaligus beriman dan mempercayai Muhammad sebagai Rasul. Ketika itu, Khadijah juga mengorbankan hartanya untuk berjuang di jalan Allah. Masya Allah. Begitulah Khadijah, wanita yang penuh pengorbanan selama hidupnya.
Ketika berbicara tentang Fatimah binti Muhammad, maka dalam sebuah hadist disebutkan, bahwa “Sesungguhnya Fatimah adalah pemimpin wanita penghuni surga.” (HR. Al-Hakim). Bahwa Fatimah menggantikan fungsi ibunya dalam mengurusi ayahnya Rasulullah SAW, setelah ibundanya wafat. Ia hidup dalam kesederhanaan dan sifat yang paling menonjol adalah tidak pernah mengeluh akan kekurangan hartanya.
Begitu pula Asiyah binti Muzahim. Ia adalah suri tauladan bagi wanita beriman. Ia adalah istri Firaun, pemimpin yang mengaku Tuhan, sangat berkuasa, kafir, dan menggetarkan istana, karena kesyirikan dan paganismenya. Meski istri seorang Firaun, iman Asiyah sangat dalam. Hubungannya dengan Allah sangat kuat, pemahamannya luar biasa, ucapannya halus, logikanya tajam, dan permintaannya halus.
Perempuan terakhir dambaan al-Qur’an adalah Maryam ibunda Isa AS. Dalam surat Ali Imron ayat 42 tertulis: “Hai maryam sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa  hidup dengan kamu).“. Ia adalah satu-satunya perempuan suci, yang melahirkan putra tanpa ayah. Satu-satunya perempuan yang namanya disebut dalam Al-Qur’an beberapa kali. Bahkan ia menjadi nama salah satu surat dalam Al-Qur’an.
Saudaraku, semoga kita semua dapat berusaha meneladani perempuan dambaan Syurga di atas. Amiin. *
Oleh, Ust. Bachtiar Nasir
(esqiel/salingsapa/muslimahzone.com)

Sunday, January 27, 2013

Meraih Kedekatan dengan Rasul

Oleh: Ali Akbar bin Agil
MESKI jarak waktu yang tidak kurang dari 15 abad menjadi pemisah antara kehidupan kita saat ini dengan kehidupan di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, namun beliau tidak menutup pintu dan kesempatan bagi siapa saja untuk bisa memperoleh kedudukan yang dekat dengan beliau pada hari kiamat.
Ada empat hal yang harus kita lakukan untuk meraih kedudukan yang dekat dengan beliau.
Pertama, memperbanyak membaca shalawat. Membaca shalawat kepada nabi merupakan suatu amalan yang istimewa. Keistimewaan itu nampak dengan keikutsertaan Allah dan para Malaikat-Nya untuk turut membacanya. (QS. Al-Ahzab : 56).

Dalam sabdanya, Nabi mengatakan, “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali shalawat dengan penuh ikhlas dari lubuk hatinya,” maka kata nabi ada empat keistimewaan pada orang tersebut. Yaitu, “1. Allah memberikan sepuluh rahmat 2. Mengangkat derajatnya hingga sepuluh derajat 3. Menuliskan sepuluh kebaikan untuknya 4. Menghapus sepuluh dosa keburukannya.” (HR. Bukhari, Nasa`i dan Al Bazzar).
Ketika kita banyak membaca shalawat, kans untuk mendapatkan tempat terhormat, bersanding, dan duduk di dekat Rasululah pada hari kiamat, sangat terbuka lebar. “Sesungguhnya orang yang paling terdekat (utama) kepadaku nanti pada hari kiamat adalah siapa yang paling banyak bershalawat kepadaku,” sabda Nabi yang diriwayatkan Imam Tumrudzi.

Kedua, mengasuh dan mengasihi anak-anak yatim. Berbuat baik terhadap anak yatim/piatu bukanlah sekadar turut membantu menyelesaikan lapar dan dahaga sosialnya. Tetapi, di sisi lain perbuatan itu merasuk ke dalam batin, menenteramkan hati, dan mendamaikan perasaan orang yang memberi perhatian kepada mereka.
Amalan ini melahirkan anugerah di hari akhir, yaitu tempat duduknya dekat dengan tempat duduknya Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Nabi sendiri memberikan garansi soal yang satu ini. “Aku dan orang yang mengurus anak yatim di surga bagaikan ini (beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu merenggangkannya).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Inilah amalan kedua untuk membuat kavling kita di hari akhir dekat dengan kavling Baginda Nabi Muhammad Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Oleh karena itu, siapapun yang menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya, amalan kedua mutlak untuk diamalkan. Caranya, dengan mengasuh, mengasihi, dan memberikan perhatian serta bantuan semampu kita. Jangan menunggu pada momen-momen tertentu saja seperti bulan Muharram atau Ramadhan, namun setiap waktu kita menyempatkan diri untuk berbagi dengan mereka.

Ketiga, penguasa atau pemimpin yang adil, arif, dan bijaksana. Ketika diangkat menjadi khalifah, Sayidina Umar bin Abdul Aziz mendatangi beberapa ulama untuk meminta nasihat.

Salah satu ulama tersebut, Sayidina Hasan Al Bashri, menasihatinya seperti ini, “Anggaplah rakyat seperti ayahmu, saudaramu, dan anakmu. Berbaktilah kepada mereka seperti engkau berbakti pada ayahmu, peliharalah hubungan baik dengan mereka seperti dengan saudaramu, dan sayangilah mereka seperti engkau menyayangi anakmu.” Nasihat ini diingat dan dijalankan dengan baik oleh Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz khalifah terkenal dengan kehati-hatiannya dalam mengggunakan harta milik rakyatnya, sampai-sampai beliau pernah menutup hidung saat melintas di Baitul Maal yang kala itu sedang merebak bau harum kesturi di sana.

Seorang petugas Baitul Maal terheran-heran dan bertanya, “Wahai khalifah, kenapa engkau menutup hidungmu?” Umar bin Abdul Aziz menjawab, "Aku tak mau memakan harta rakyatku sedikit pun, walau hanya dengan menghirup harum kesturi ini.”

Oleh karenanya, harus ada kesadaran dari seorang pemimpin untuk bersikap adil dan amanat dalam menjalankan roda kepemimpinanya, tidak berat sebelah, memperlakukan masyarakat yang ia pimpin dengan sejajar, tidak timpang, dan tentunya mampu mengangkat kesejahteraan hidup mereka.
Pemimpin yang ideal berarti pemimpin yang adil. Keadilan seorang pemimpin diganjar dengan beragam jaminan. Di antaranya, ia akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Selain jaminan naungan, kedudukan seorang pemimpin yang bijaksana adalah memperoleh kedekatan posisi dengan Allah sekaligus Rasul-Nya. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. bersabda, “Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan tempat duduknya dekat dengan-Nya adalah imam (pemimpin) yang adil.” (HR. Turmudzi).

Perbuatan berikutnya atau keempat yang akan membuat kita memiliki kedudukan dan posisi yang dekat dengan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah mempunyai perangai mulia. Selain membaca shalawat, mengasihi anak-anak yatim, dan menjadi pemimpin yang adil, menghiasi diri dengan keluhuran akhlak dapat menjadi jembatan menuju posisi yang rapat dengan Nabi.

Nabi menegaskan dalam sebuah sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Ibnu Asakir. “Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku kedudukannya di surga adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang pongah, sombong, dan takabur.”

Berkat akhlak yang mulia, ada seorang tawanan yang selamat dari pemenggalan. Dalam kitab Kanzul Ummal, disebutkan bahwa Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memenggal tujuh tawanan yang berhasil ditangkap oleh pasukan Islam. Tidak lama setelah turun perintah Nabi, datanglah Malaikat Jibril menemui Rasul, lalu berkata, “Hai Muhammad, penggallah leher yang enam, tetapi jangan penggal leher kepala yang ini.”

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam bertanya, “Wahai Jibril, mengapa?” Jibril menjawab, “Ia orang yang berakhlak baik, dermawan, dan senang membagi makanan.” Rasulullah bertanya, “Hai Jibril, apakah ini datang darimu atau Tuhanmu?” Jibril berkata, “Tuhanku memerintahkan aku untuk itu.”

Islam menjadikan akhlak sebagai ukuran kesempurnaan agama seseorang. Artinya, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mesti menunjukkan akhlak dalam kesehariannya. Baik di jalan, pada saat berkendara, di rumah, saat makan dan minum, di kantor, kampus, di mananpun, ia akan mendahulukan akhlak.

Diutusnya Nabi ke muka bumi membawa misi menyempurnakan akhlak. Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, “Ya Rasul, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.”
Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Beliau bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari sebelah kirinya, “Apa agama itu?” Beliau menjawab, “Akhlak yang baik.”

Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari belakang dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasululah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? (Agama itu akhlak yang baik) Sebagai missal, janganlah engkau marah.”

Momentum peringatan maulid sangat pas dijadikan ajang introspeksi diri apakah selama ini diri kita sudah benar-benar menedalani akhlak Nabi? Ataukah ada yang salah pada diri kita dalam memperingati kelahiran Nabi, sehingga kita melupakan ajaran ajaran adi luhung yang telah dipraktekkan oleh beliau selama hayatnya?

Kelahiran Nabi seharusnya tidak hanya diperingati dengan peringatan yang sekadar tradisi yang terulang di tiap musim, setiap tahun sekali. Namun ia merupakan tradisi yang diadakan sebagai alat menghidupkan ajaran nabi di rumah kita, masyarakat kita, tempat kita bekerja. Apalah artinya memperingati maulid tanpa ada keseriusan menghayati dan membumikan perangai kesantunan dalam kehidupan. Wallahu A`lam Bis Shawab.*


Pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Kota Malang

Friday, April 27, 2012

Jadilah Keren Apa Adanya, Jangan Bohongi Diri!

Penampilan rasanya sudah ok. Apa ya yang kurang? Mata Dio berputar-putar menyapu wajah cute-nya di cermin. Ah… kurang keren nih kaya’nya kalau kurang topi. “Tapi, topi sepertinya lagi dicuci nih, Bos,” gumamnya dalam hati. Hmm… topi Dito, kakaknya, keren juga kalau dipadu dengan kaus dan jeans yang dipakainya. Dengan santai, diambilnya topi Dito di kamarnya yang tak terkunci. Kebetulan kakaknya sedang kuliah, jadi Dio dengan leluasa menyarangkan topi berwarna merah terang itu di kepalanya. Eh… jaket Dito kayaknya juga keren. Sekalian aja deh!
Dio berjalan menuju pintu depan. Ups, kantong koq kayaknya kurang tebel nih Man! “Ga’ cukup kayaknya kalau harus latihan basket bawa uang cuma segini,” batin cowok kelas 1 SMU itu. Langkahnya terayun ke kamar Dita, kakak sulungnya. “Mbak, aku pinjam uang dunk,” rengek Dio pada Dita yang sedang mengerjakan tugas akhirnya itu. “Lha, yang kemarin aja belum dipulangin. Lagi juga kamu ‘kan dikasih uang saku buat sebulan sama Ibu. Emang dikemanain?”cecar Dita. “Kurang Mbak, pinjam dunk. Aku janji deh, nanti kalau ibu kasih aku uang lagi, aku ganti uangmu Mbak.” Dita tak kalah sengit, ”Bulan lalu aja utangmu belum lunas! Lho??”
Ya, begitulah hari-hari Dio. Selalu tampil “lebih keren” dengan barang-barang pinjaman. Selalu lebih nge-bossy dengan uang saku sebulan ditambah pinjam sana-sini. Keren sih, tapi yang tahu modal asli Dio pasti akan mencibir.
...Kita membohongi diri kita sendiri bahwa sebenarnya kita bisa tampil keren bahkan lebih keren dengan apa yang kita miliki...
Punya teman seperti Dio? Atau, malah kita sendiri yang terjangkiti penyakit hobi pinjam? Be carefull, ah Sob. Yang satu ini, bisa bikin kita nggak percaya diri, cenderung berbohong, atau malah bisa bikin kita menginginkan barang milik orang lain.
Pinjam-meminjam memang kadang bisa jadi solusi instan untuk memenuhi kebutuhan atau sekadar membuat diri kita merasa lebih ok dihadapan orang lain. Untuk memperoleh barang yang kita inginkan tak perlu pengeluaran ekstra. Bermodal kepercayaan, kita bisa tampil lebih gaya dengan barang yang kita pinjam. Tapi, inilah awal yang paling beresiko bagi diri kita dalam membangun kepercayaan diri. Kita tak cukup percaya diri dengan apa yang kita miliki. Kita tak merasa dengan apa yang kita miliki, kita bisa jadi yang paling keren ”luar-dalam”.
Belajar dari shahabat Umar RA
Padahal Sobat, yang namanya pinjam adalah ajang pertaruhan kepercayaan yang harganya sama spekulatifnya dengan kapan ajal menjemput. Yuk, kita simak sejenak kisah Umar bin Khaththab yang pernah ingin pinjam uang ke Baitul Mal. Umar RA ketika itu getir hatinya melihat anaknya pulang sekolah sambil menangis. Anaknya tersebut diejek teman-temannya, “Lihatlah, anak Amirul Mukminin (presiden) bajunya tambalan seperti itu!”
Melihat anaknya diejek sedemikian, Umar pun merasa iba. Dia lantas mengajukan pinjaman ke Bendahara Negara sebesar empat dirham dengan jaminan gajinya sebagai presiden bulan depan. Namun, jawaban yang diberikan Sang Bendahara Negara sungguh tak terduga, “Wahai Umar, adakah engkau dapat memastikan bahwa engkau masih hidup hingga bulan depan? Bagaimana jika engkau mati sebelum melunasi hutangmu itu? Apa yang akan engkau perbuat terhadap hutangmu di hadapan Allah?”
Umar RA pun menangis ditegur sedemikian rupa oleh bawahannya tersebut. Dia lantas menyuruh anaknya berangkat sekolah seperti biasa. Demikianlah Umar bin Khaththab, presiden kaum Muslimin kedua setelah Rasulullah SAW mangkat. Sedemikian takut belum dapat melunasi hutangnya, bila ajal keburu menjemput. Padahal, beliau adalah presiden yang “dapat berbuat apapun.” Namun, Umar lebih takut pada Rabbnya, dibandingkan harus menyerah pada keinginannya.
Demikian pula dengan kepercayaan yang membebani kita manakala memimjam. Kita tidak tahu apakah barang yang kita pinjam tersebut akan aman selama berada di tangan kita. Apakah kita dapat mengembalikannya dalam keadaan seperti semula, ataukah akan ada sesuatu yang membuat barang yang kita pinjam tersebut rusak atau uang yang kita pinjam tersebut tidak dapat kembali tepat waktu? Lalu, masih adakah umur bagi kita untuk mengembalikannya? Bukankah kalau kita tidak mengembalikan sesuai dengan keadaan semula atau tidak tepat waktu, itu sama saja dengan merusak kepercayaan?
...Kita juga akan cenderung menjadi orang yang membohongi diri dengan menjadikan meminjam sebagai kebiasaan...
Kita juga akan cenderung menjadi orang yang membohongi diri dengan menjadikan meminjam sebagai kebiasaan. Kita akan membohongi potensi kita yang sebenarnya. Kita membohongi diri kita sendiri bahwa sebenarnya kita bisa tampil sama keren bahkan lebih keren dengan apa yang kita miliki. Dengan demikian, kita tidak akan pernah menemukan “siapa kita sebenarnya.”
Bila sudah dalam keadaan akut, kebiasaan pinjam bahkan akan mendorong kita untuk memiliki apa yang kita pinjam tersebut. Maka jadilah barang pinjaman tersebut berubah status menjadi hak milik. Wah repot deh kalau udah sampe kayak gini.
So, sobat… yuk inget-inget banget firman Allah SWT berikut ini: “Dan (ingatlah) ketika Robb-mu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari maka pasti azab-Ku sangat berat” (Qs Ibrahim 7) 
Yuk bersyukur dengan apa yang kita punya. Pinjam? Boleh aja kalau itu memang harus dilakukan untuk hal yang sangat penting. Kalau cuma sekadar menunjang penampilan… kamu udah keren apa adanya koq! [Anis/voa-islam.com]